Didirikan oleh Max Praditya, yang mengaku mengawali bisnis tersebut dari hobinya mengoleksi kaus band dari luar negeri. ”Lama kelamaan saya menyadari membeli kaus band luar negeri menghabiskan banyak uang. Bermodal nekat, pada 2003 saya membuat kaus sendiri, eh ternyata laku,” kenang Max. Tiga tahun pertama adalah masa terberat bagi Max untuk mengembangkan Crooz.
Ia banyak belajar soal bahan kaus dan sablon, juga berusaha menjual produk dengan harga terjangkau sambil tetap menjaga kualitas. Bagaimana Max bisa sukses membawa labelnya go international, adalah hal yang menarik. Dia melakukan pendekatan langsung. Mulanya lulusan jurusan E-Commerce, Edith Cowan University, Perth, WA ini menggandeng pihak lain untuk bekerja sama.
Kemudian, Max mulai agresif menawari clothing line miliknya kepada grup-grup band luar negeri yang kebetulan sedang berkonser di Indonesia. Salah satunya grup hardcore/trash Malaysia Incarnation. Dari pendekatan seperti itulah, label Crooz mulai berkembang ke mancanegara. Menurut pria kelahiran Jakarta, 1 Juni 1982 ini, Singapura adalah negara yang membawa pengaruh besar terhadap perkembangan Crooz.
Itu karena di negara tersebut banyak sekali grup band dari luar negeri yang berkonser. Di luar negeri, Crooz memiliki gerai di negara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Inggris, Jepang, hingga Australia. Menurut Max, para marketer Crooz di luar negeri disebut dengan SoulDistributor. ”Crooz berkembang di luar negeri melalui Soul Distributor ini,” ujarnya. Memang secara profit, menurut Max, penjualan di luar negeri tidak terlalu tinggi.
Namun, ia berharap agar label miliknya terus berkembang. Lini clothing lain yang juga mampu go international adalah PeterSaysDenim (PSD) yang berasal dari Bandung. Founder PSD, Peter Firmansyah, mengawali bisnisnya bermodalkan uang pinjaman. Peter yang pernah bekerja di pabrik jins selama 3 tahun itu memang ingin memulai usaha clothing yang dapat go international.Dan, hasilnya terwujud. Saat ini clothing-nya sudah melalang buana ke Kanada, Singapura, dan Malaysia.
Adapun yang menarik, kaus produksi PSD digunakan oleh puluhan band populer di luar negeri. Mulai Rocket to the Moon, Every Time I Die, We Shoot The Moon, hingga Jason Hoodrich. Menurut Peter, endorse dari musisi luar negeri ia dapatkan awalnya hanya melalui pertemanan. ”Banyak di antara mereka yang sangat menyukai PSD, hingga tidak sadar jika kami adalah brand indie dari Indonesia.
Itu karena kualitas dan kemampuan berkembang PSD sama seperti brand besar yang ada di Amerika maupun Eropa,” tutur Peter. Nah yang pasti, keberadaan festival seperti JakCloth (Jakarta Clothing) yang dihelat sejak 2010 cukup berdampak besar terhadap pertumbuhan industri clothing lokal. Di situ pula band-band indie lokal ikut berkumpul. Itu karena pada kenyataannnya band dan clothing lokal ini berhubungan erat.
Crooz, misalnya, memiliki Crooz Records. Label rekaman ini memperkenalkan musik dari band-band cutting edge yang didukung oleh Crooz. Mereka telah berkolaborasi dengan grup seperti Pee Wee Gaskins, Thirteen, Killing Me Inside, Sweet As Revenge, dan Jacob in The Trunk.
Menurut Max, hal terpenting dan harus dilakukan saat ini adalah selalu berpikir out of the box. ”Jangan cuma jadi followers karena followers memiliki usia yang bisa dihitung dan tidak akan bertahan lama. Makanya, kami harus mengembangkan kreativitas semaksimal mungkin,” paparnya.
SUMBER : http://koran-sindo.com/node/307314
Tidak ada komentar:
Posting Komentar